Ramai,
dan riang diantara malam menuju petang. Saya terlanjur menghabiskan waktu untuk menyaksikan sebuah kepalsuan, yang seharusnya seiring dengan ditelannya terang oleh gelapnya malam mampu membuka setidaknya sedikit kejujuran dari diri mereka dibalik tarian, teriakan, dan sorak-sorai yang sengaja mereka buat untuk menciptakan riang, riang yang tidak benar-benar menyenangkan diri mereka namun demi sebuah pengakuan bahwa mereka ada, dan mereka sama dengan banyak dari mereka yang terlanjur hilang dalam keharusan agar diakui.
dan riang diantara malam menuju petang. Saya terlanjur menghabiskan waktu untuk menyaksikan sebuah kepalsuan, yang seharusnya seiring dengan ditelannya terang oleh gelapnya malam mampu membuka setidaknya sedikit kejujuran dari diri mereka dibalik tarian, teriakan, dan sorak-sorai yang sengaja mereka buat untuk menciptakan riang, riang yang tidak benar-benar menyenangkan diri mereka namun demi sebuah pengakuan bahwa mereka ada, dan mereka sama dengan banyak dari mereka yang terlanjur hilang dalam keharusan agar diakui.
Sepertinya
kebutuhan manusia bertambah satu lagi, yaitu diakui, tanpa mencuci tangan saya sendiri, saya pun juga begitu. Lebih
konyol lagi, saya menghabiskan waktu sekitar dua jam hanya untuk menyaksikan
apa yang mereka lakukan, berburu makna dan esensi
apa yang mereka dapat dari bersetubuh dengan riuh
Riuh
Cukup, aku rasa sudah
cukup
Jiwa yang terperangkap
dalam ragamu
Raga yang tidak akan
pernah puas
Penat, sesak,
Jati dirimu tenggalam
dalam riuh
Haruskah kau memaksa
dirimu bercinta dengan ramai
Ramai yang tak bisa
menghargai sepi
Hanya demi eksistensi
dirimu dimata mereka yang hidup dalam palsu yang kau buat
Cepat,
Sebelum kemarau mu
datang
Dan kau pun ikut hilang
Dalam mereka, yang tak
berhasil pulang
No comments
Post a Comment