Wednesday, September 20, 2017

Riuh

Ramai, 

            dan riang diantara malam menuju petang. Saya terlanjur menghabiskan waktu untuk menyaksikan sebuah kepalsuan, yang seharusnya seiring dengan ditelannya terang oleh gelapnya malam mampu membuka setidaknya sedikit kejujuran dari diri mereka dibalik tarian, teriakan, dan sorak-sorai yang sengaja mereka buat untuk menciptakan riang, riang yang tidak benar-benar menyenangkan diri mereka namun demi sebuah pengakuan bahwa mereka ada, dan mereka sama dengan banyak dari mereka yang terlanjur hilang dalam keharusan agar diakui.

                Sepertinya kebutuhan manusia bertambah satu lagi, yaitu diakui, tanpa mencuci tangan saya sendiri, saya pun juga begitu. Lebih konyol lagi, saya menghabiskan waktu sekitar dua jam hanya untuk menyaksikan apa yang mereka lakukan, berburu makna dan esensi apa yang mereka dapat dari bersetubuh dengan riuh
               
Riuh
Cukup, aku rasa sudah cukup
Jiwa yang terperangkap dalam ragamu
Raga yang tidak akan pernah puas
Penat, sesak,
Jati dirimu tenggalam dalam riuh

Haruskah kau memaksa dirimu bercinta dengan ramai
Ramai yang tak bisa menghargai sepi
Hanya demi eksistensi dirimu dimata mereka yang hidup dalam palsu yang kau buat

Cepat,
Sebelum kemarau mu datang
Dan kau pun ikut hilang

Dalam mereka, yang tak berhasil pulang

No comments

Post a Comment

© Jagad'e Anak Lanang
Maira Gall