Wednesday, February 16, 2022

Ayah Matahari Mengajarkan Bara Kecil

Dari perjudian Bara Kecil dengan Angin

*

Bara Kecil, sudah jelas,
ia bukan petir,

dan sebaliknya,
taifun bukanlah peran mu,
ataupun perangmu

Aku yang menjadi utusan
untuk menjagamu, sudah tentu,
aku lapang untuk apapun
yang mekar daripadamu

Hanya kagum dan agung
yang bisa kuberikan bagi mu

Karena kamu adalah apa yang
ada daripadaku, begitupun sebaliknya

Sakral dan bengis mu
tentu adalah cermin bagiku,
dan apa yang lebih baik lagi
bagiku jika bukan itu

Ketidakmampuan ku untuk
menjadi mawar merah hati
sepenuhnya seperti Ibu mu
tidak perlu ku sangkal,

Tapi ia mewarisimu itu,
dan itulah yang menjadikanmu
ia dan aku, Bara Kecil

Sebab angin tidak perlu tahu,
adalah sebuah kebodohan untuk
bermain kucing dan berlaku bajing
dengan api dan singa

Biar ia dimakan biru,
bilur, dan hangat udara laut

Biar ia, ia, ia, dan siapapun mereka
menyatu dan menyaru dengan belahan
demi belahan kostal dan pasifik

yang ia lahap dan teguk
hingga gemuk dan kekenyangan

namun, hanya dahaga
yang tetap mencintainya

Tidak bisa kau sebut namanya
dengan namamu, dan terang jelas,
tidak perlu

karena Rubi dan Safir
mana bisa disamakan

Mekarlah Bara kecil,
mekarlah seperti bagaimana
kamu di mataku,

indah, berpijar,
dan berterus-terang.

Wednesday, October 13, 2021

Melipur Taifun


Kubiarkan burung-burung pemakan bangkai

membawa apa yang terkoyak daripadaku


Lagipula,

kemudian nanti kita juga akan membusuk,

bukan begitu.


Biar doa-doa yang harum

tetap mewangi


Biar burung-burung gereja

tetap berbagi agung

yang menjauhkan

kemeluk


dan menjadikan

harum dari anyir


dan memekarkan

kembang dari tabir


dan menjadikan syukur,

seperti waktu natal atau tahun,

tahun yang mengulang

atau yang membaru


Berdegup, berdetak, tenang, dan bijaksana


Kubiarkan burung-burung pemakan bangkai

membawa, merakus, dan melahap

apa yang terkoyak daripadaku


Karena aku terlahir kembali setiap waktu,

sungguh, adalah kebersyukuranku akan itu


Sudah, sudah reda taifun,

tidak apa-apa, biar dosa dibasuh luruh

jika memang kehendak Sang Maha


Karena amis memang dikandung darah,

dan darah dikandung daging,

dan daging masing yang tanggung


'toh siapa yang tahu

apa yang diluhur


Biar picik atau mulia ditanggung

bahu dari setiap


Biar ingin atau angin dilindung

hati dari setiap


Hati dan bahu menanggung agung,

biar agung dipelihara masing


Biar apa yang terkoyak,

mati jika memang sudah sepantasnya


Biar membusuk sebusuk-busuknya

dan kujadikan pupuk, agar aku mekar


Karena prihal mati ku tidak akan,

justru aku akan hidup berkali-kali


Prihal hujan,

biarkan hujan membasahi bumi,

biar ruh kembali dingin dan agung,

biar ruh menerima dingin dan agung,


pelan lagu atau deras waktu,

sebagaimana semestinya


Kalau keruh,

ajak saja bersenandung

Wednesday, September 29, 2021

La Maison

Megah tidak, kekar pun jauh,

namun inilah yang kubangun sedari kecil.


Sudah lepas dari hitunganku,

berapa kali kurakit puing-puing

dan runtuh dari waktu ke waktu,


sungguh,

apa yang ada daripadaku

tidaklah berlapis baja,


tidak jarang kutemui

bagian demi bagian ku lapuk,

bahkan hampir remuk,

sudah tentu


Aku sendiri pun

belum cukup pandai,

mungkin seumur hidup

adalah waktu belajarku


namun selama apapun itu

tidaklah sekalipun ku tolak

mereka yang ingin untuk bertamu

dan menunggu di depan pintu


mungkin perlu kucoba lain waktu,

namun tentu hal itu tidaklah sesuai

dengan puing-puing yang

kubangun daripadaku


Entah lindung atau gemuruh,

aku selalu senang bertemu

dengan kawan baru,


aku yakin selalu ada

bagian daripadaku yang

bisa kubagikan,


dengan harapan

remah dan rempahku

bisa berkawan dengan

milik mereka,


mungkin aku bisa mencoba

berpikir terbalik di lain waktu,


tapi mengapa harus,

jika memang remah dan rempah

yang menurutku banyak daripadaku

bisa kubagikan


Lapuk nya puing-puing ku

sebegitu mudahnya dirindu angin,

didamba badai, dicumbu taufan


sungguh, seringkali tidak terpikirkan

olehku apa yang mereka bawa

ketika bertamu


meskipun seringkali akupun tahu,

apa yang sebenarnya ada dibalik pintu


namun apa baiknya bagiku

untuk mempercepat laju dan

menggagalkan lagu


Setengah mati aku pergi terlalu jauh,

setengah mati aku pergi kembali pulang


Megah tidak, kekar pun jauh,

namun inilah yang kubangun sedari kecil.


kubangun rumah yang jauh dan teduh,

tirai jendelaku tidaklah sehalus sutra lembut,

isi rumahku tidaklah selengkap dan serapih

apa yang megah, corak dinding ku tidaklah

sebersih tembok baru,


bahkan dinding ku tidaklah setebal kastil

karena kekayuan manis lah yang ku miliki,


jangan tanya atap, sudah berulang kali

aku hampir kehilangan atap karena hujan,

angin, ataupun taufan.


Mungkin dengan begitu

dapat kudengar tangis,

gurau, atau haru dalam diam,


mungkin dengan begitu

dapat kuhirup anyir, harum,

dan agung yang bernyawa,


mungkin dengan begitu

dapat kulihat jelas apa yang

membedakan gelap dan terang,

pagi dan malam, rindu dan perang,

hasrat dan tenang


mungkin dengan begitu

dapat kukenali hati dan gerang


Barangkali kalian akan suka

lilin-lilin redup terang favoritku,


aku tidak terbiasa dengan lelampuan,

tapi bara lilin selalu kucoba pertahankan

kapanpun itu,


semoga saja sewaktu malam tiba

kalian tetap bisa berjumpa terang daripadaku


Meski puing-puing ku lapuk,

bahkan hampir remuk, sudah tentu


namun aku senang kalian dapat

beristirahat daripadaku, entah pelan lagu,

atau deras waktu



Megah tidak, kekar pun jauh, namun inilah yang kubangun sedari kecil.

kubangun rumah daripadaku, kujadikan rumah daripadaku

Wednesday, September 25, 2019

Doa Subuh



Setelah sore tiba,
ibu malam menyiapkan beberapa doa
untuk dikirimkan ke langit, dan langit
sesegera mungkin mengagungkan
setiap alfa dan omega
yang didengungkan si empunya
dibalik bingkisan manis untuk
menyambut si bara kecil

Dihadapkan elok dan tembok buana,
Bara kecil beribu kali dihantam
catatan harian Tuhan yang berisikan
syair-syair bak pujangga yang senantiasa
menghibur janda-janda yang
ditinggal suaminya dalam perang.

Bohong, si penulis catatan harian
Tuhan memang pembohong,
difikirnya setiap ruh bisa memikul langit,
dan gemuruh?

Ketika bara kecil lahir, dua bingkisan manis
dikirimkan sebagai balasan,
penjaga langit menghadiahi ibu malam
janji matahari untuk menjadi lindung,
gunung, dan sebuah kesetiaan,
untuk menjaga bara kecil dalam lentera.

Hangat dan terang dari kamar bersalin
mengusir gelap dan remang dari pukul
empat pagi sampai-sampai penjaga langit
terbawa suasana dan luput,
penjaga langit sialan,
mana bingkisan yang lain untuk ibu malam?

Seiring besarnya bara kecil dalam lentera,
kotak kado hitam sedikit demi sedikit terbuka
dan menghadiahkan ibu malam keharusan
untuk mengemban badai, dan gemuruh
yang memaksa ibu malam untuk tidur,
tidur, tidur,

dan meninggalkan matahari
yang sedikit kewalahan untuk menjaga
si bara kecil yang harus mencari
biru dan jingga nya sendiri

Ibu malam,
tidak apa-apa kan aku keluar dari lentera?


© Jagad'e Anak Lanang
Maira Gall