Wednesday, October 13, 2021

Melipur Taifun


Kubiarkan burung-burung pemakan bangkai

membawa apa yang terkoyak daripadaku


Lagipula,

kemudian nanti kita juga akan membusuk,

bukan begitu.


Biar doa-doa yang harum

tetap mewangi


Biar burung-burung gereja

tetap berbagi agung

yang menjauhkan

kemeluk


dan menjadikan

harum dari anyir


dan memekarkan

kembang dari tabir


dan menjadikan syukur,

seperti waktu natal atau tahun,

tahun yang mengulang

atau yang membaru


Berdegup, berdetak, tenang, dan bijaksana


Kubiarkan burung-burung pemakan bangkai

membawa, merakus, dan melahap

apa yang terkoyak daripadaku


Karena aku terlahir kembali setiap waktu,

sungguh, adalah kebersyukuranku akan itu


Sudah, sudah reda taifun,

tidak apa-apa, biar dosa dibasuh luruh

jika memang kehendak Sang Maha


Karena amis memang dikandung darah,

dan darah dikandung daging,

dan daging masing yang tanggung


'toh siapa yang tahu

apa yang diluhur


Biar picik atau mulia ditanggung

bahu dari setiap


Biar ingin atau angin dilindung

hati dari setiap


Hati dan bahu menanggung agung,

biar agung dipelihara masing


Biar apa yang terkoyak,

mati jika memang sudah sepantasnya


Biar membusuk sebusuk-busuknya

dan kujadikan pupuk, agar aku mekar


Karena prihal mati ku tidak akan,

justru aku akan hidup berkali-kali


Prihal hujan,

biarkan hujan membasahi bumi,

biar ruh kembali dingin dan agung,

biar ruh menerima dingin dan agung,


pelan lagu atau deras waktu,

sebagaimana semestinya


Kalau keruh,

ajak saja bersenandung

No comments

Post a Comment

© Jagad'e Anak Lanang
Maira Gall