Kubiarkan burung-burung pemakan bangkai
membawa apa yang terkoyak daripadaku
Lagipula,
kemudian nanti kita juga akan membusuk,
bukan begitu.
Biar doa-doa yang harum
tetap mewangi
Biar burung-burung gereja
tetap berbagi agung
yang menjauhkan
kemeluk
dan menjadikan
harum dari anyir
dan memekarkan
kembang dari tabir
dan menjadikan syukur,
seperti waktu natal atau tahun,
tahun yang mengulang
atau yang membaru
Berdegup, berdetak, tenang, dan bijaksana
Kubiarkan burung-burung pemakan bangkai
membawa, merakus, dan melahap
apa yang terkoyak daripadaku
Karena aku terlahir kembali setiap waktu,
sungguh, adalah kebersyukuranku akan itu
Sudah, sudah reda taifun,
tidak apa-apa, biar dosa dibasuh luruh
jika memang kehendak Sang Maha
Karena amis memang dikandung darah,
dan darah dikandung daging,
dan daging masing yang tanggung
'toh siapa yang tahu
apa yang diluhur
Biar picik atau mulia ditanggung
bahu dari setiap
Biar ingin atau angin dilindung
hati dari setiap
Hati dan bahu menanggung agung,
biar agung dipelihara masing
Biar apa yang terkoyak,
mati jika memang sudah sepantasnya
Biar membusuk sebusuk-busuknya
dan kujadikan pupuk, agar aku mekar
Karena prihal mati ku tidak akan,
justru aku akan hidup berkali-kali
Prihal hujan,
biarkan hujan membasahi bumi,
biar ruh kembali dingin dan agung,
biar ruh menerima dingin dan agung,
pelan lagu atau deras waktu,
sebagaimana semestinya
Kalau keruh,
ajak saja bersenandung
No comments
Post a Comment