Megah tidak, kekar pun jauh,
namun inilah yang kubangun sedari kecil.
Sudah lepas dari hitunganku,
berapa kali kurakit puing-puing
dan runtuh dari waktu ke waktu,
sungguh,
apa yang ada daripadaku
tidaklah berlapis baja,
tidak jarang kutemui
bagian demi bagian ku lapuk,
bahkan hampir remuk,
sudah tentu
Aku sendiri pun
belum cukup pandai,
mungkin seumur hidup
adalah waktu belajarku
namun selama apapun itu
tidaklah sekalipun ku tolak
mereka yang ingin untuk bertamu
dan menunggu di depan pintu
mungkin perlu kucoba lain waktu,
namun tentu hal itu tidaklah sesuai
dengan puing-puing yang
kubangun daripadaku
Entah lindung atau gemuruh,
aku selalu senang bertemu
dengan kawan baru,
aku yakin selalu ada
bagian daripadaku yang
bisa kubagikan,
dengan harapan
remah dan rempahku
bisa berkawan dengan
milik mereka,
mungkin aku bisa mencoba
berpikir terbalik di lain waktu,
tapi mengapa harus,
jika memang remah dan rempah
yang menurutku banyak daripadaku
bisa kubagikan
Lapuk nya puing-puing ku
sebegitu mudahnya dirindu angin,
didamba badai, dicumbu taufan
sungguh, seringkali tidak terpikirkan
olehku apa yang mereka bawa
ketika bertamu
meskipun seringkali akupun tahu,
apa yang sebenarnya ada dibalik pintu
namun apa baiknya bagiku
untuk mempercepat laju dan
menggagalkan lagu
Setengah mati aku pergi terlalu jauh,
setengah mati aku pergi kembali pulang
Megah tidak, kekar pun jauh,
namun inilah yang kubangun sedari kecil.
kubangun rumah yang jauh dan teduh,
tirai jendelaku tidaklah sehalus sutra lembut,
isi rumahku tidaklah selengkap dan serapih
apa yang megah, corak dinding ku tidaklah
sebersih tembok baru,
bahkan dinding ku tidaklah setebal kastil
karena kekayuan manis lah yang ku miliki,
jangan tanya atap, sudah berulang kali
aku hampir kehilangan atap karena hujan,
angin, ataupun taufan.
Mungkin dengan begitu
dapat kudengar tangis,
gurau, atau haru dalam diam,
mungkin dengan begitu
dapat kuhirup anyir, harum,
dan agung yang bernyawa,
mungkin dengan begitu
dapat kulihat jelas apa yang
membedakan gelap dan terang,
pagi dan malam, rindu dan perang,
hasrat dan tenang
mungkin dengan begitu
dapat kukenali hati dan gerang
Barangkali kalian akan suka
lilin-lilin redup terang favoritku,
aku tidak terbiasa dengan lelampuan,
tapi bara lilin selalu kucoba pertahankan
kapanpun itu,
semoga saja sewaktu malam tiba
kalian tetap bisa berjumpa terang daripadaku
Meski puing-puing ku lapuk,
bahkan hampir remuk, sudah tentu
namun aku senang kalian dapat
beristirahat daripadaku, entah pelan lagu,
atau deras waktu
Megah tidak, kekar pun jauh, namun inilah yang kubangun sedari kecil.
kubangun rumah daripadaku, kujadikan rumah daripadaku
No comments
Post a Comment