Wednesday, September 29, 2021

La Maison

Megah tidak, kekar pun jauh,

namun inilah yang kubangun sedari kecil.


Sudah lepas dari hitunganku,

berapa kali kurakit puing-puing

dan runtuh dari waktu ke waktu,


sungguh,

apa yang ada daripadaku

tidaklah berlapis baja,


tidak jarang kutemui

bagian demi bagian ku lapuk,

bahkan hampir remuk,

sudah tentu


Aku sendiri pun

belum cukup pandai,

mungkin seumur hidup

adalah waktu belajarku


namun selama apapun itu

tidaklah sekalipun ku tolak

mereka yang ingin untuk bertamu

dan menunggu di depan pintu


mungkin perlu kucoba lain waktu,

namun tentu hal itu tidaklah sesuai

dengan puing-puing yang

kubangun daripadaku


Entah lindung atau gemuruh,

aku selalu senang bertemu

dengan kawan baru,


aku yakin selalu ada

bagian daripadaku yang

bisa kubagikan,


dengan harapan

remah dan rempahku

bisa berkawan dengan

milik mereka,


mungkin aku bisa mencoba

berpikir terbalik di lain waktu,


tapi mengapa harus,

jika memang remah dan rempah

yang menurutku banyak daripadaku

bisa kubagikan


Lapuk nya puing-puing ku

sebegitu mudahnya dirindu angin,

didamba badai, dicumbu taufan


sungguh, seringkali tidak terpikirkan

olehku apa yang mereka bawa

ketika bertamu


meskipun seringkali akupun tahu,

apa yang sebenarnya ada dibalik pintu


namun apa baiknya bagiku

untuk mempercepat laju dan

menggagalkan lagu


Setengah mati aku pergi terlalu jauh,

setengah mati aku pergi kembali pulang


Megah tidak, kekar pun jauh,

namun inilah yang kubangun sedari kecil.


kubangun rumah yang jauh dan teduh,

tirai jendelaku tidaklah sehalus sutra lembut,

isi rumahku tidaklah selengkap dan serapih

apa yang megah, corak dinding ku tidaklah

sebersih tembok baru,


bahkan dinding ku tidaklah setebal kastil

karena kekayuan manis lah yang ku miliki,


jangan tanya atap, sudah berulang kali

aku hampir kehilangan atap karena hujan,

angin, ataupun taufan.


Mungkin dengan begitu

dapat kudengar tangis,

gurau, atau haru dalam diam,


mungkin dengan begitu

dapat kuhirup anyir, harum,

dan agung yang bernyawa,


mungkin dengan begitu

dapat kulihat jelas apa yang

membedakan gelap dan terang,

pagi dan malam, rindu dan perang,

hasrat dan tenang


mungkin dengan begitu

dapat kukenali hati dan gerang


Barangkali kalian akan suka

lilin-lilin redup terang favoritku,


aku tidak terbiasa dengan lelampuan,

tapi bara lilin selalu kucoba pertahankan

kapanpun itu,


semoga saja sewaktu malam tiba

kalian tetap bisa berjumpa terang daripadaku


Meski puing-puing ku lapuk,

bahkan hampir remuk, sudah tentu


namun aku senang kalian dapat

beristirahat daripadaku, entah pelan lagu,

atau deras waktu



Megah tidak, kekar pun jauh, namun inilah yang kubangun sedari kecil.

kubangun rumah daripadaku, kujadikan rumah daripadaku

No comments

Post a Comment

© Jagad'e Anak Lanang
Maira Gall